Oborselebes.com, Brongkol, Argomulyo, Cangkringan, Sleman — Pelayanan prima dalam pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak lagi dipahami semata sebagai prosedur teknis atau transaksi jasa, melainkan sebagai pengalaman budaya yang hidup dan bermakna. Perspektif ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Pelayanan Prima Usaha Pariwisata yang diselenggarakan di Desa Wisata Brongkol, Kecamatan Cangkringan, Sleman.
Narasumber utama,Agus Budi Rachmanto, Ketua Bidang Peningkatan Kapasitas Industri DPD GIPI DIY, menegaskan bahwa kekuatan pariwisata DIY terletak pada kemampuannya menghadirkan pelayanan yang berakar pada nilai lokal namun relevan dengan dinamika global.

“Di Yogyakarta, pelayanan bukan sekadar soal cepat dan tepat. Ia adalah ekspresi budaya. Filosofi hamemayu hayuning bawana (memperindah dan menjaga keharmonisan dunia) harus tercermin dalam setiap interaksi dengan wisatawan,” ungkap Agus.
Ia menjelaskan bahwa wisatawan yang datang ke DIY, baik nusantara maupun mancanegara, memiliki karakter dan ekspektasi yang semakin beragam. Tren global seperti wellness tourism, slow tourism, dan cultural experience menempatkan keramahan, keotentikan, rasa aman, dan kenyamanan sebagai kebutuhan utama wisatawan masa kini.
Dalam konteks tersebut, pelayanan prima menuntut lebih dari sekadar standar operasional. Prinsip sederhana seperti Senyum, Sapa, dan Salam harus dijalankan dengan ketulusan, diiringi sikap responsif, solutif, konsisten, serta empati yang sensitif terhadap perbedaan budaya.
Lebih jauh, Agus menekankan pentingnya pendekatan Customer Experience (CX) dan Customer Journey (CJ) dalam pengelolaan usaha pariwisata. Pengalaman wisatawan dimulai jauh sebelum mereka tiba (dari kemudahan akses informasi dan reservasi) berlanjut saat kunjungan melalui alur layanan yang nyaman dan berkesan, hingga pascakunjungan melalui komunikasi dan kesan positif yang berkelanjutan.
“Wisatawan akan mengingat bukan hanya apa yang mereka lihat, tetapi bagaimana mereka diperlakukan. Dari awareness hingga advocacy, ada titik-titik kritis yang menentukan apakah sebuah destinasi meninggalkan luka atau kenangan,” jelasnya.
Standar pelayanan usaha pariwisata pun harus dijaga secara menyeluruh, mulai dari hospitality dan sikap SDM, kebersihan, keamanan, kenyamanan, kecepatan layanan, hingga kemampuan menangani keluhan secara profesional. Dalam hal ini, kearifan lokal menjadi nilai tambah strategis, bahasa yang halus, gestur sopan, tata krama Jawa, serta storytelling lokal mampu memperkuat diferensiasi destinasi di tengah persaingan global.

Sosialisasi ini juga menyoroti peran digitalisasi dalam pelayanan prima. Reservasi daring, informasi real-time, serta media sosial tidak hanya berfungsi sebagai alat promosi, tetapi juga sebagai cermin kualitas layanan. Kecepatan respon dan etika digital menjadi bagian tak terpisahkan dari citra destinasi.
Tak kalah penting, Agus menegaskan bahwa masa depan pariwisata DIY harus berpijak pada prinsip inklusivitas dan keberlanjutan. Pelayanan ramah disabilitas dan lansia, sensitivitas budaya dan gender, serta kepedulian terhadap lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan moral dan strategis.
Melalui kegiatan ini, Desa Wisata Brongkol menjadi contoh bahwa pelayanan prima bukan konsep abstrak, melainkan praktik nyata yang dapat tumbuh dari desa, oleh masyarakat, dan untuk pengalaman wisata yang berkelas dunia, tanpa kehilangan jati diri Yogyakarta.

